Bawa Identitas Luwu Raya ke Pasar, LURCBAG P2MW UNCP Tembus Omzet Rp3 Juta per Bulan
UNCP.AC.ID,PALOPO, — Dari sebuah tas bermotif budaya Luwu, lahir sebuah gagasan besar: membawa identitas daerah menembus pasar dan mengubah kebanggaan budaya menjadi peluang ekonomi. Gagasan itu kini mulai membuahkan hasil. LURCBAG (Luwu Raya Culture Bag), produk kreatif mahasiswa Universitas Cokroaminoto Palopo (UNCP), berhasil meningkatkan penjualan hingga 60 pcs per bulan dengan omzet mencapai Rp3 juta.
.jpeg)
Lebih dari sekadar produk fesyen, LURCBAG hadir sebagai representasi kreativitas generasi muda dalam mengemas kekayaan budaya Luwu Raya ke dalam produk yang modern, fungsional, dan memiliki nilai jual. Motif serta ornamen khas Luwu Raya menjadi identitas utama yang membuat produk ini memiliki karakter berbeda di tengah persaingan pasar.
.jpeg)
Perjalanan LURCBAG menjadi semakin kuat melalui Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha (P2MW) 2026, di bawah bimbingan Andi Jumardi, S.Pd., M.Pd. Melalui program tersebut, LURCBAG tidak hanya mendapatkan penguatan dari sisi produk, tetapi juga didorong untuk membangun merek, memperluas pasar, memperkuat strategi pemasaran, serta menata pengelolaan usaha secara lebih profesional.

Transformasi itu terlihat nyata. Sebelum mendapatkan pembinaan P2MW, LURCBAG masih berada pada tahap awal dengan penjualan sekitar 15 pcs per bulan dan omzet Rp525 ribu. Kini, penjualan meningkat menjadi 60 pcs per bulan, sementara omzet melonjak hingga Rp3 juta per bulan. Harga rata-rata produk pun meningkat dari Rp35 ribu menjadi Rp50 ribu per pcs seiring dengan peningkatan kualitas bahan, desain, jahitan, packaging, branding, dan strategi promosi.
Empat kali lipat pertumbuhan penjualan tersebut bukan hadir secara kebetulan. Tim LURCBAG mulai mengubah cara melihat pemasaran. Dari sebelumnya mengandalkan WhatsApp Story, Instagram pribadi, dan brosur sederhana, kini pemasaran diperkuat melalui akun resmi @lurc_bag, katalog digital, Reels Instagram, TikTok, banner expo, hingga eksperimen fitur ads.
.jpeg)
Strategi tersebut membawa LURCBAG bergerak dari sekadar menjual produk menjadi menjual cerita dan identitas. Setiap tas tidak hanya diposisikan sebagai barang yang digunakan sehari-hari, tetapi sebagai media ekspresi budaya dan kebanggaan terhadap Luwu Raya.
“Kami tidak hanya ingin menjual tas. Kami ingin setiap produk membawa cerita dan identitas Luwu Raya ke mana pun produk itu digunakan.”
Positioning inilah yang kemudian membuka ruang pasar yang lebih luas. LURCBAG kini menyasar mahasiswa, pekerja muda, komunitas pecinta budaya lokal, hingga kebutuhan event kampus dan organisasi. Pesanan custom juga dikembangkan sebagai peluang untuk menciptakan penjualan berulang.
.jpeg)
Tak berhenti pada tas, tim juga menyiapkan pengembangan produk berupa pouch, dompet bermotif budaya, serta paket merchandise khas Luwu Raya. Pengembangan tersebut menjadi bagian dari visi menjadikan LURCBAG sebagai UMKM kreatif yang tidak hanya memiliki daya jual, tetapi juga mampu membawa nilai budaya lokal ke pasar yang lebih luas.
Di bawah pembinaan P2MW, tim LURCBAG juga terus memperkuat kapasitas usaha melalui pelatihan kewirausahaan, digital marketing, manajemen keuangan sederhana, serta pengembangan jejaring produksi dengan konveksi lokal.
.jpeg)
Bagi LURCBAG, capaian omzet Rp3 juta per bulan bukan sekadar angka. Di balik angka tersebut ada sebuah pesan bahwa budaya lokal memiliki tempat di pasar modern—ketika dikemas dengan kreativitas, kualitas, branding, dan strategi pemasaran yang tepat.
Dari tangan mahasiswa UNCP, motif Luwu Raya tidak lagi hanya menjadi bagian dari kekayaan budaya yang dikenang, tetapi mulai dipakai, dipasarkan, dan dibawa melangkah lebih jauh.
LURCBAG membuktikan: ketika identitas bertemu kreativitas, budaya bisa menjadi kekuatan ekonomi.